Topik Utama, Pendidikan Karakter Sudah Optimalkah Peran Keluarga dan Masyarakat?

SATUAN pendidikan berperan sebagai sumber penggerak untuk mewujudkan kemitraan dengan keluarga yang dapat dituangkan dalam komitmen tertulis saat pendaftaran atau kesepakatan saat sosialisasi program sekolah di awal tahun pembelajaran.

Demikian dikemukakan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bandung Dr. H. Juhana, M.M.Pd., pada Saresehan bertema “Penguatan Peran Komite Sekolah Dalam Pendidikan Karakter” yang diselenggarakan Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung, di Aula SMAN Baleendah, Selasa (18/12).

Hadir dalam saresehan tersebut Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung Prof. Dr. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., para kepala UPTD, para kepala sekolah dan para komite sekolah di Kabupaten Bandung.

Lebih lanjut Juhana mengatakan, setelah ada komitmen tertulis, dukungan masyarakat dapat disalurkan melalui komite sekolah atau organisasi seperti Dewan Pendidikan, organisasi penyelenggara/pendidik, dan organisasi keagamaan/masyarakat peduli pendidikan.

“Dengan komitmen tersebut, memastikan anak datang ke sekolah dan memantau kegiatan anak sepulang sekolah, menanamkan nila-nilai kedisiplinan, kerja keras, gotong royong, dll. Di rumah  melalui keteladanan, pembiasaan, dan dialog,” ungkapnya.

Selain itu, katanya, memotivasi dan mendorong prestasi anak misalnya dengan membantu pekerjaan rumah serta menanyakan tentang yang dipelajari dan kejadian di sekolah. “Upayakan menjalin komunikasi dengan guru untuk mengetahui kemajuan anak dan kejadian-kejadian khusus yang terjadi serta berpartisipasi dalam kegiatan sekolah yang memerlukan keterlibatan orang tua. Menjalin komunikasi dengan keluarga tentang kemajuan belajar siswa dan kejadian-kejadian khusus,” kata Juhana.

Juhana juga mengungkapkan pentingnya meningkatkan kemampuan keluarga melalui program parenting dan penyediaan buku-buku bacaa, mendorong keterlibatan orang tua dalam membantu kegiatan belajar anak di rumah seperti penyediaan fasilitas dan penciptaan suasana yang mendukung, mendorong keterlibatan orang tua dalam kegiatan sekolah, misalnya sebagai nara sumber atau membantu kegiatan bersama serta memberi izin kepada anak untuk mengikuti kegiatan ekstra kurikuler sesuai minat dan bakatnya.

Pembicara lainnya, praktisi pendidikan yang juga Kepala SD Al Mabrur Baleendah Dr. Linna Nurwulan Apriany, M.Pd., mengingatkan kepada 150 kepala sekolah dan komite sekolah yang hadir bahwa pendidikan karakter merupakan pendidikan sepanjang hayat yang memerlukan keteladan dan sentuhan dari sejak usia dini sampai dewasa. “Karakter merupakan proses perkembangan individu yang berkelanjutan berlangsung terus menerus dan tidak pernah berhenti (never ending process) selama manusia hidup dan selama sebuah bangsa ada,” ungkapnya.

Linna mengungkapkan bahwa karakter berasal dari akar kata bahasa latin yang artinya “dipahat”. Karakter ibarat memahat atau mengukir, memberikan sentuhan agar objek yang diukir menjadi sebuah mahakarya yang memiliki nilai lebih dan ciri khas.   

“Secara harfiah karakter artinya kualitas mental atau moral, kekuatan moral, dan reputasi. Menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak. Berkarakter artinya mempunyai watak atau mempunyai kepribadian (Kamisa, 1997, hlm.281),” ungkap Linna.

Mengutip Hermawan Kertajaya (2010, hlm.3), karakter adalah ciri khas yang dimiliki suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana individu bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu.

Ciri khas ini akan diingat oleh orang lain yang menentukan suka atau tidak sukanya mereka terhadap individu. Karakter menjadikan individu mencapai perrkembangan yang konsisten, integritas, dan berenergi secara berkesinambungan.  

“Pendidikan karakter bukan merupakan gagasan baru. Sepanjang sejarah di seluruh dunia, pendidikan memiliki dua tujuan utama, yaitu membantu peserta didik menjadi cerdas, dan membantu mereka menjadi baik. Peserta didik memerlukan kekuatan karakter untuk mencapai dua hal tersebut, diantaranya etos kerja yang

kuat, disiplin diri, dan ketekunan untuk sukses di sekolah dan kehidupannya,” tandas Linna.

Lebih lanjut dikatakan, pPendidikan karakter bersifat multi level dan multi channel yang pembentukannya memerlukan keteladanan, perilaku nyata dalam seting kehidupan otentik, dan tidak bisa dibentuk secara instan. “Dengan demikian, pendidikan karakter harus merupakan gerakan moral yang dilakukan secara holistik, berlangsung level demi level sesuai dengan tingkat perkembangan individu, dan melibatkan berbagai pihak dalam seting yang berlangsung secara alamiah,” ujarnya.

 Linna mengingatkan, pendidikan karakter bukan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah. Periode yang paling utama dan menentukan dalam pendidikan karakter adalah orang tua. Pola asuh orang tua (Parenting style) merupakan faktor yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter. Anak akan mendapatkan pendidikan karakter dari orang tua sebagai pendidik di rumah dan guru sebagai pendidik di sekolah.

“Dengan demikian, pendidikan karakter akan berlangsung secara optimal manakala terbangun kemitraan yang kuat antara orang tua dan seluruh komunitas sekolah.

Kemitraan ini terwujud dalam lembaga/badan mandiri yang disebut dengan Komite Sekolah yang memiliki peranan dalam peningkatan mutu pelayanan dengan memberikan pertimbangan, arahan, dan dukungan tenaga, sarana, dan prasarana serta pengawasan pada tingkat satuan pendidikan,” ujarnya.

Peran komite sekolah dalam meningkatkan penguatan pendidikan karakter, kata Linna, diwujudkan dalam bentuk partisipasi dari seluruh komponen pendidikan (yayasan, kepala sekolah, guru, peserta didik, orang tua/wali, masyarakat, dan institusi pendidikan) berdasarkan pada tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan di sekolah.

Tujuan sekolah, kata Linna, pada hakikatnya adalah tujuan pendidikan secara nasional yaitu (1) membentuk manusia yang bertaqwa, berbudi pekerti dan berkepribadian, (2) disiplin, bekerja keras, bertanggung jawab serta mandiri, (3) cerdas dan terampil, (4) sehat jasmani dan rohani, (5) cinta tanah air dan mempunyai semangat kebangsaan serta kesetiakawanan sosial.

Tumbuhkan budaya berkarakter

Pakar Pendidikan Prof. Dr. H. Dadi Permadi, M.Ed., dalam Saresehan yang dipandu pengurus Dewan Pendidikan Kab. Bandung Dr. H. Mumun Mulyana, M.Pd mengungkapkan, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, perlu tumbuh budaya sekolah yang berkarakter karena merupakan kehidupan keseharian di satuan pendidikan. “Tumbuhkan budaya sekolah yang berkarakter yang harus menjadi pembiasaan keseharian anak-anak,” ungkapnya.

Pembiasaan tersebut, katanya, harus terintegrasikan dengan kegiatan ekstra kurikuler seperti pramuka, olah raga, karya tulis dan lain sebagainya. “Apa yang menjadi pembiasaan di sekolah, nantinya diharapkan akan dibawa ke rumah menjadi kebiasaan sehari-hari.

Kebiasaan positip anak di sekolah harus teraktualisasikan dalam kegiatan keseharian di rumah. Sedangkan pembicara lainnya, Kasi Fasilitasi Penjamin  Mutu Pendidikan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat Neni Niawati, M.Pd mengatakan, secara umum Program Pendidikan Karakter (PPK) sudah sangat istimewa dan menjadi perhatian sekolah, ditunjukkan dengan pengukuran hasil instrumen menunjukkan hasil positif bahwa PPK sudah menjadi kebiasaan.

“Satuan pendidikan sebaiknya memanfaatkan potensi lingkungan sehingga program PPK dapat berjalan secara efektif dan efisien,” tandasnya.

Sedangkan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota, kata Neni,sebaiknya memberikan perhatian penuh terhadap program PPK melalui sosialisasi, pembinaan dan kerja sama dengan berbagai pihak dan masyarakat LPMP, “LPMP sebagai kepanjangtanganan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan pembinaan secara berkesinambungan dan memfasilitasi berbagai kebutuhan informasi mengenai PPK bagi satuan pendidikan,” ungkapnya.

Pada tahap pelaksanaan, kata Lina, komite sekolah dapat berpartisipasi sebagai koordinator, pelaku atau narasumber kegiatan PPK, misalnya dengan mengadakan kelas inspirasi, yaitu mengundang alumni untuk berbagi kisah sukses mereka agar menjadi motivasi bagi adik-adik kelasnya, mengoordinir peringatan hari-hari besar nasional dan hari besar keagamaan, mengoordinir penataan sarana, prasarana, dan lingkungan sekolah, mengoordinir pengumpulan sumbangan untuk korban bencana alam, dan sebagainya.

“Pada tahap monitoring dan evaluasi (monev), komite sekolah bersama dengan pihak sekolah melakukan monev sejauh mana ketercapaian pelaksaaan program. Apakah sudah tercapai atau belum? Apa kekurangannya? Apa hal yang perlu diperbaiki? Apa tindak lanjut yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas implementasi PPK di sekolah? dan sebagainya,” pungkas Linna.

Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. dalam closing remarknya mengungkapkan bahwa saresahan tersebut hendaknya bisa menghasilkan sebuah kebijakan yang bisa implementasikan oleh komite sekolah dengan kepala sekolah di tingkat satuan pendidikan.

“Karena pendidikan karakter tidak mungkin kalau hanya mengandalkan kepada pihak sekolah. Pihak sekolah dan keluarga siswa harus bersinergi untuk sama-sama membentuk karakter anak yang lebih baik. Pihak sekolah dengan komite sekolah yang merupakan representasi dari masyarakat harus bisa bersinergi dengan baik dan saling terikat untuk mengimplementasikan program pendidikan karakter ini,” pungkas Prof. Sunaryo.

Menurut ketua panitia kegiatan, Aep S. Abdullah, dari hasil kegiatan ini, materi yang disampaikan narasumber nantinya akan dimuat di web Dewan Pendidikan Kabupaten Bandung yakni dewanpendidikan.or.id dan majalah “Rawayan”.

“Untuk para kepala sekolah dan komite sekolah yang tidak bisa hadir dalam saresehan ini mulai Januari 2019 nanti bisa dilihat di web dewan pendidikan dan majalan dewan pendidikan ‘Rawayan’,” jelasnya. asa

About the Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Posts