“Sekolah Generasi Indonesia” untuk Anak Biar Tak Dititipkan Seperti Sepeda

DEWAN PENDIDIKAN – Mahasiswa program studi (Prodi) ekonomi pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Shoffan Mujahid, menginisiasi komunitas bersamabisa.id, mendirikan “Sekolah Generasi Indonesia” bagi warga RT 03, RW 36, Kampung Mipitan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Solo.

Berbeda dengan sekolah pada umumnya, baik jenjang pendidikan dasar maupun menengah, “Sekolah Generasi Indonesia” yang diinisiasi Shoffan Mujahid mengusung konsep “rumah adalah sekolah pertama bagi anak” yang digagas Bapak Pendidikan Nasional, Ki Hadjar Dewantara.

Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Dr. Sutanto, bersama inisiator “Sekolah Generasi Indonesia”, Shoffan Mujahid, pada peresmian sekolah di Kampung Mipitan, Mojosongo/visi.news/istimewa
Menanggapi terbentuknya “Sekolah Generasi Indonesia” yang diinisiasi Shoffan Mujahid, Direktur Reputasi Akademik dan Kemahasiswaan UNS, Dr. Sutanto, mengungkapkan, urusan mendidik dan mengajar anak sebenarnya adalah tanggung jawab penuh orang tua. Sehingga tidak tepat jika orang tua menggantungkan urusan pendidikan anak secara penuh ke sekolah.

“Ki Hadjar Dewantara menyatakan, rumah itu sekolah. Jadi, sekolah itu rumah. Itu artinya, setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah. Pendidikan tidak berhenti di bangunan sekolah, tapi juga di rumah, di jalan, dan di mana-mana,” ujar Dr. Sutanto, Jumat (27/8/2021).

Saat peresmian “Sekolah Generasi Indonesia” di Balai Warga RT 03/ RW 36 Kampung Mipitan, yang dihadiri Kepala “Sekolah Generasi Indonesia” Rizaldy dan perwakilan warga Kampung Mipitan, Minggu (22/8/2021), Dr. Sutanto, menjelaskan, rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Siapapun yang dijumpai anak di dalam rumah adalah gurunya, sehingga penting bagi orang tua untuk memberi teladan yang baik bagi anaknya di rumah.

“Yang keliru sekarang, rumah dianggap urusan rumah dan anak dititipkan ke sekolah. Itu seperti orang menitipkan sepeda, pagi dititipkan nanti sore diambil. Mudah-mudahan kita bisa menambahkan peran di rumah sebagai sekolah. Sebab, kalau bapak atau ibu telat bangun akan dicontoh anaknya. Saya yakin, 70 persen mendidik ada di rumah dan selebihnya diserahkan ke sekolah,” tandasnya.

Pendiri komunitas bersamabisa.id, Shoffan Mujahid, mengemukakan, kehadirannya bersama teman-teman sesama mahasiswa UNS dengan membentuk “Sekolah Generasi Indonesia”, bertujuan ikut membangun karakter dan mencerdaskan anak-anak di Kampung Mipitan.
“Kami ingin anak-anak di Kampung Mipitan memiliki masa depan cerah dan dapat mewujudkan cita-cita mereka. Kami punya tujuan jangka panjang agar anak-anak milenial tidak lupa cara merawat kemerdekaan Indonesia. Jadi, kami tidak hanya ingin memenuhi SKS, tapi kami secara organik dan alami justru ikut menjaga dan merawat kemerdekaan Indonesia,” tutur Shoffan Mujahid.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *